top of page

Relawan Bersatu, Tidak Bisa Dikalahkan

Yogawati

Kevin Kegan.png

 “Jadi penulis itu romantis, karena bisa bikin klepek-klepek kata-katanya. 

Tapi jadi relawan justru bisa bikin nangis, sebab ketika ia mencurahkan pengabdiannya, ia tak perlu banyak kata untuk tunjukkan ketulusan hatinya” (Gwt.2019)

 

Saya bukanlah seorang penulis, tapi ingin suatu saat jadi penulis. Alasannya sederhana saja, karena tidak suka ngomong banyak. Daripada sekian topik menguap di udara, saya cenderung menuangkan buah pikir via medium yang berbeda, tulisan ini contohnya. Selain bisa menembus banyak kepala, konon dengan menulis, hidup kita bisa senantiasa awet muda. Konon, lho ya.

Biarpun belum menjadi penulis yang sebenar-benarnya penulis, saya cukup girang dengan menjadi relawan, apalagi relawan Bakti Nusantara 2019. Belum menjadi “sesuatu”, dalam artian belum menyandang jabatan atau profesi tertentu, saya justru diberi kesempatan langka oleh panitia. Selepas wisuda di Graha Sabha Pramana November 2018, keseharian saya tidak lepas dari hajat tes-tes kerja, proyek penelitian sosial, pameran buku, kelas menulis, dan volunteering. Kecintaan saya pada dunia kerelawanan a.k.a volunteering bermula saat menjadi mahasiswa baru. Terlebih pernah dibina dalam kawah candradimuka Beastudi Etos Dompet Dhuafa, membuat saya menjadi anak muda dengan sejuta mimpi mengubah dunia. Mengubah dunia yang diselingi dengan rebahan, tentu saja.

Bagi saya pribadi, pengalaman pertama mengikuti Bakti Nusantara di Kampung Segeram, Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kab. Natuna akhir September 2019 adalah moment mega-spesial. Bagaimana tidak, dengan konsep acara yang sudah begitu rapi, pelaksanaan di lapangannya pun turut bikin mbrebes mili (red. merinding, terharu). Totalitas panitia dalam mengurus acara ke sana kemari, cerita perjalanan darat yang lumayan makan ati, sangat cukup menendang-nendang rasa nyaman dalam diri. Tiada sinyal? Tak apa, masih bisa teriak sambil lari-lari. Tidak ada listrik? Tenang, masih ada senter dan genset yang bagaikan dua sejoli. Tidak banyak air buat mandi? Santai, parfum dan tisu basah aman terkendali. Semakin beradaptasi, semakin saya dibuat tenggelam dalam satu pertanyaan basi: “Apakah Gawat kini sedang bermimpi?”

Sebagai bagian remah-remah dari tim Inspirasi Nusantara, masih sedikit yang bisa saya beri. Ketika kelas inspirasi, semangat merah putih coba saya tunjukkan pada mading buatan anak-anak SD yang mukanya masih imut bin happy. Kertas krep merah putih yang panjang melintang, menggambarkan rasa syukur diri, menegaskan Indonesia masih punya stok orang baik yang peduli pada saudara se-NKRI. Di pelatihan menulis cerpen, saya mendapati para remaja yang tak kalah luar biasa. Dari perbincangan saya dengan beberapa peserta, ternyata ada juga yang ingin kuliah meski banyak kendala. Di Taman Bacaan Masyarakat (TBM), gelora literasi tepian sungai membuat saya merinding sendiri. Sebuah bekas gudang disulap menjadi taman baca dengan begitu syahdunya. Hal-hal lain seperti menyiapkan isi goodie bag, menyortir buku, memanggil pasien Rumah Sakit Lapangan, memulai obrolan dengan orang baru, mengikuti anak-anak bermain, semuanya serba sederhana namun memberi napas hidup yang paripurna. Terima kasih tak terhingga untuk all crew IN: Kak Titis, Kak Yuanita, Kang Zeze, Kang Aris, Dek Iman, Dek Dimas, Kak Icha, Reimi, abang kakak Messengers Of Peace, dan semua relawan di BN 2019. I love you full lah pokoknya.

Sorotan dari kegiatan Bakti Nusantara 2019 menurut saya adalah keberhasilan panitia berkolaborasi dengan berbagai stakeholder, baik warga lokal, pemerintah, dan pihak swasta. Menggandeng media dan sponsor, acara Bakti Nusantara 2019 semakin sip. Mengetik Bakti Nusantara di search engine, ragam berita sudah terpampang di dunia maya. Memandang bagian belakang rompi relawan, beuh, cukup tergambar betapa luas relasi abang kakak Ikastara.

Meneropong Bakti Nusantara di masa depan, sama artinya dengan menaruh harapan besar pada follow up program-programnya. Memulai akan selalu lebih mudah daripada mempertahankan. Mengembangkan yang sudah dirintis, memantau secara berkala apa yang ditinggalkan menjadi tantangan nyata. Di sini, local hero yang berasal dari masyarakat akar rumput, patut kita jaga semangatnya bersama. Begitupun anak-anak, yang terus bertumbuh dan akan jadi penerus peradaban selanjutnya.

Dari kacamata saya sebagai relawan jalur open recruitment, program Bakti Nusantara akan semakin joss lagi dengan beberapa agenda, seperti regenerasi panitia, peningkatan sistem rekrutmen relawan non Ikastara, publikasi media, dan monitoring program pasca acara. Regenerasi panitia dapat dilakukan sejak malam evaluasi, yang menyaring beberapa nama yang bersedia menjadi panitia tahun selanjutnya. Panitia ini bertanggung jawab penuh sejak 3 bulan sebelum pelaksanaan acara. Sistem rekrutmen relawan untuk kategori umum juga perlu ditingkatkan, seperti jangka waktu seleksi minimal satu bulan sebelum tanggal keberangkatan. Harapannya, relawan terpilih mampu menyiapkan dengan maksimal apa yang akan menjadi kontribusinya, sehingga membantu kinerja panitia. Untuk publikasi media, masih perlu adanya pengoptimalan media sosial seperti Twitter, Youtube, Facebook, Instagram dan website. Konsistensi mengelola kanal media sosial di masa kini akan me-rebranding Bakti Nusantara sebagai program yang eksis dan layak diikuti. Terakhir, yaitu monitoring program pasca acara, sudah tentu jadi PR besar bagi semua. Pemerintah sebaiknya kita “ketuk”, masyarakat sasaran kita “peluk”, solidaritas relawan dipupuk, dan tentunya, sumberdaya finansial kita “keruk”. Kriyuk kriyuk.

Di tahun-tahun pertama, Bakti Nusantara sudah cukup gemilang berkontribusi untuk Indonesia. BN yg akan datang harus lebih banyak berkolaborasi dengan beragam mitra. Saya percaya, program ini akan berkembang dan bertahan lama selagi ada tunas-tunas baru yang melanjutkan spirit pengabdiannya. 

Sebagai penutup, saya sekali lagi ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada panitia, atas kesempatan untuk bergabung dengan Bakti Nusantara 2019. Quotes di bawah, menjadi semacam lecutan bergerak diri ini sejak mencicipi bangku pendidikan tinggi. Diri yang merasa pintar, namun bodoh saja tak punya.

“Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, 

tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh?

Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat 

dengan modal kepintaran mereka”
- Romo Mangun -


 

Sampai bertemu di lain waktu, di sekian kesempatan.

Salam relawan bersatu, tak bisa dikalahkan! ☺

bottom of page