Cerita Enrika Rahayu Setyani 

Anyo Erika.png

Saya Enrika Rahayu Setyani yang dalam keseharian biasa disapa Anyo. Saat ini saya berdomisili di Kab. Purwakarta, Jawa Barat, mendampingi suami tugas bekerja. Sebelumnya saya bekerja sebagai asisten peneliti di Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK UI), Depok. Memutuskan resign dari pekerjaan yang bisa dibilang sudah sangat nyaman demi membersamai suami tentu bukan keputusan yang mudah, awalnya. Tetapi, semakin lama saya semakin menikmati dan menyadari bahwa hal tersebut justru memberi ruang yang lebih luas kepada saya untuk melakukan apa yang saya sukai, mempelajari hal yang ingin saya ketahui, tanpa melupakan kontribusi untuk negeri. Dengan waktu luang yang ada, saya bisa lebih berkarya melalui kegiatan volunteering. Selain Yayasan Tunas Bakti Nusantara, saat ini saya juga tergabung dalam Yayasan SabangMerauke; program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia untuk menanamkan semangat toleransi dan kebhinekaan.  

 

Traveling adalah hobi saya, baik untuk murni liburan maupun bagian dari pekerjaan. Ketika bekerja di PPK UI, saya sering ditugaskan untuk supervisi kegiatan lapangan di berbagai wilayah yang kebanyakan merupakan rural area di Indonesia. Kesempatan berinteraksi dengan local people  selalu memberikan wawasan baru dari local wisdom setempat dan menyadarkan saya betapa kayanya keragaman budaya Indonesia. Bakti Nusantara untuk Natuna adalah kegiatan bakti nusantara pertama yang saya ikuti dan insya Allah bukan yang terakhir. Awal mula saya bergabung dengan Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) adalah ketika saya melihat poster donasi untuk Natuna di sosial media kakak kelas saya di FKM UI, kak Sri Gusni Febriasari. Saat itu saya ingin berdonasi sekedarnya, tetapi saya ingin tahu dulu seperti apa sih kegiatan yang akan dilakukan. Alih-alih menjawab pertanyaan saya terkait detail kegiatan, kak Sri justru mengajak saya untuk membantu YTBN khususnya Divisi Wira Nusantara yang berada di bawah naungannya. Saat itu saya ingin langsung menjawab "bersedia" karena merasa visi yang dibawa YTBN ini selaras dengan passion saya di bidang community development program di berbagai wilayah khususnya pelosok nusantara.

 

Selain berkesempatan terjun langsung ke Desa Segeram untuk kegiatan puncak pada 23-25 September 2019, saya juga berkesempatan menjadi ‘tim aju’ yang berangkat ke Natuna pada 17 September untuk Kegiatan Peresmian Perpustakaan SMPN 3 Satap yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Muhadjir Effendy. Banyak sekali inspirasi yang saya dapatkan tentang bagaimana yayasan ini bergerak, menyebarkan semangat gotong-royong kepada berbagai pihak untuk turut serta menyukseskan pembangunan Desa Segeram. Networking antar anggota Ikastara yang tak bisa dipungkiri besar pengaruhnya terhadap kelancaran program Bakti Nusantara ini patut diacungi jempol. ‘Hanya’ berlandaskan sama-sama pernah bersekolah di SMA yang sama, meskipun pada tahun angkatan yang berbeda, saya melihat para alumni Ikastara ini saling percaya dan bahu membahu membantu layaknya saudara. 

 

Rangkaian kegiatan Bakti Nusantara yang dilakukan untuk masyarakat Segeram sudah sangat bagus, holistik, dan paket super lengkap menurut saya. Orang-orang yang berkecimpung di dalam kegiatan pun memang orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Hal yang sangat saya sukai dari Bakti Nusantara Natuna ini adalah para relawan berkesempatan tinggal bersama di rumah warga. Hal tersebut seakan mampu meruntuhkan tembok pembatas antara pribumi dan pendatang, memudahkan menginternalisasi warga bahwa ini program bersama yang peran serta mereka dibutuhkan di dalamnya, bukan sekedar program bawaan relawan atau yayasan. Harapan mereka mendapatkan inspirasi dari kegiatan ini sepertinya agak meleset karena nyatanya kami lah yang banyak terinspirasi dari mereka. Saya sangat senang mendengar, membaca sharing teman relawan tentang pelajaran hidup yang mereka dapatkan dari induk semang selama di Segeram. Semoga mereka pun dapat memetik apa yang baik dari relawan yang menumpang beberapa hari di rumah mereka, serta tergerak untuk melanjutkan pembangunan yang sudah kita mulai bersama ini.  

 

Visi saya untuk Bakti Nusantara ke depan semoga bisa menjadi program intervensi termonitor, yang artinya YTBN masih memantau dan melakukan monitoring terhadap program pembangunan (baik infrastruktur maupun SDM) yang telah dilaksanakan di lokasi tujuan. Mungkin program pembangunan di satu lokasi bisa diperpanjang menjadi 2-3 tahun setelah kegiatan puncak selesai dimana pada masa ini gerakan yayasan lebih ke arah monitoring dan evaluasi serta perancangan exit strategy sebelum benar-benar ‘melepaskan’ daerah tersebut untuk melanjutkan program secara mandiri.

 

Menguatkan peran serta pemerintah daerah dalam pelaksanaan program juga hal penting yang perlu dibangun YTBN kedepannya. Karena biar bagaimanapun, pemda memiliki wewenang dan kewajiban terhadap kemajuan desa/lokasi program Bakti Nusantara. Sehingga mereka tidak hanya berpartisipasi saat kegiatan berlangsung saja atau saat yayasan bergerak di lokasi tetapi juga melanjutkan kegiatan yang sudah dilakukan. Selain itu, dengan menggandeng erat pemda setempat, program pembangunan yg diinisiasi Bakti Nusantara dapat lebih dipastikan keberlanjutannya. 

Rangkaian kegiatan Bakti Nusantara Natuna yang saya lihat sudah cukup lengkap dan komprehensif. Namun, akan lebih baik jika need assessment lokasi tujuan diperkuat sebelum perencanaan program agar program yang diberikan benar-benar tepat guna untuk masyarakat setempat.  Satu hal yang agak mengganjal bagi saya untuk Bakti Nusantara di Natuna adalah belum berhasilnya kita menciptakan atau mengakomodir kebutuhan utama masyarakat Segeram yaitu penyediaan sumber listrik dan sinyal. Oleh karena itu, kedepannya gerakan Bakti Nusantara lebih diprioritaskan kepada apa yang paling dibutuhkan masyarakat setempat. Penyediaan listrik yang dimaksud bukan berarti kita harus membangun instalasi listrik tetapi bisa juga dengan menguatkan advokasi ke pihak terkait yang berkompeten untuk memastikan masuknya aliran listrik ke kampung Segeram. Meskipun dalam kegiatan kemarin kita belum berhasil menciptakan sumber daya listrik, namun sebenarnya harapan akan masuknya listrik ke Segeram semakin nyata dengan pernyataan Ibu Wakil Bupati Natuna yang berjanji akan berupaya seoptimal mungkin untuk hal tersebut. Hal ini lah yang harus dikawal terus oleh YTBN hingga aliran listrik dan sinyal benar-benar menerangi Segeram, sesuai dengan tagline program yang kita buat ‘Menerangi Desa Segeram’.