top of page
Vike2.png

Cerita Hamas Alrafsanjani

Saya adalah anggota aktif dari organisasi kepemudaan terbesar di dunia, yaitu Gerakan Pramuka. Dari data World Organization of Scout Movement (WOSM), anggota Gerakan Pramuka Indonesia tercatat lebih dari 20 juta anggota dari total anggota pramuka di seluruh dunia yang mencapai lebih dari 50 juta anggota. Hal ini yang membuat jumlah anggota pramuka Indonesia menjadi yang terbanyak di dunia.

Saat ini saya adalah anggota aktif pramuka golongan pandega di Racana Ali Wardhana Politeknik Keuangan Negeri STAN. Saya sendiri aktif menjadi anggota pramuka sejak sekolah dasar (SD) sekitar tahun 2006 hingga saat ini. Hal yang paling saya sukai dari pramuka adalah kuatnya rasa persaudaraan kami, sehingga saya tidak perlu khawatir untuk pergi kemanapun karena saya pasti akan dibantu oleh anggota pramuka di wilayah tersebut.

Keseharian saya adalah seorang mahasiswa semester akhir di salah satu universitas negeri di Indonesia. Saya adalah mahasiswa program studi jurnalistik di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini juga saya sedang menyusun skripsi yang konsen di bidang jurnalisme bencana, semoga skripsi saya ini bisa selesai secepatnya dan bisa wisuda di tahun 2020.

Selain aktif di Racana Ali Wardhana Politeknik Keuangan Negeri STAN, saya juga tercatat sebagai anggota Messengers of Peace (MoP). MoP sendiri adalah salah satu dari program WOSM atau organisasi pramuka sedunia yang berkonsentrasi untuk meyebarkan perdamaian kepada seluruh masyarakat dengan cara apapun, karena menurut kami perdamaian tidak hanya melulu soal peperangan dan senjata saja. Setiap anggota MoP haruslah membuat sebuah project perdamaian untuk masyarakat sekelilingnya. Saya sendiri sedang membuat sebuah project perdamaian yaitu Design for Peace dimana saya mendesain apapun seperti logo atau bahkan poster yang saya rasa membuat diri saya damai dan saya sebarkan media sosial saya. Pada tahun 2018 saya mendesain logo International Day of Peace untuk perayaan hari perdamaian dunia, dan logo saya ini digunakan oleh seluruh anggota pramuka di wilayah Asia Pasifik.

Saya aktif di MoP sejak 2016, sejak itu juga saya mengenal orang-orang hebat dibalik MoP Indonesia, seperti Kak Sri Gusni, beliau adalah ketua Koordinator Nasional MoP Indonesia yang pertama, lalu ada Kak Venny Indri Cristhiyanti, ketua Koordinator Nasional MoP Indonesia yang kedua, dan ketua Koordinator Nasional MoP Indonesia saat ini yaitu Kak Nauli Fitria, serta Kak Erwin Samuel Ramlie sebagai anggota MoP Asia Pasifik.

Saya mengetahui kegiatan Bakti Nusantara (BN) itu sejak tahun 2017 melalui postingan dari media sosial MoP, dimana saya melihat foto Kak Erwin, Kak Venny, Kak Sri Gusni dan Kang Zeze yang sedang mengikuti BN 2017. Pada BN 2018 di Banten, saya hampir ikut kegiatan tersebut, dimana Kak Erwin menawarkan para relawan MoP yang ada di sekitar Jabodetabek bisa ikut membantu kemah perdamaian di BN 2018 tersebut. Namun, karena padatnya jadwal kuliah dan ujian tengah semester membuat saya tidak bisa mengikuti BN 2018.

Pada BN 2019 di Desa Segeram, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, saya baru bisa mengikuti kegiatan ini. Sekitar bulan Juli 2019, Kak Erwin menawarkan saya berangkat ke Natuna mewakili MoP Indonesia untuk membantu Kemah Perdamaian dalam rangkaian kegiatan BN 2019 sekitar bulan September 2019. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan dan berkata siap berangkat ke Natuna. Walaupun sebenarnya pada bulan September adalah awal saya masuk kuliah pada semester ini, namun saya pikir tidak masalah untuk tidak mengikuti perkuliahan selama seminggu, karena masih diawal bulan dan tidak mungkin ada ujian pada bulan tersebut, dan biasanya dosen-dosen juga masih suka jarang masuk.

Dalam ajaran agama saya, setiap perkataan adalah doa, dan doa pasti bakal dikabulkan oleh Tuhan yang maha esa. Dan BN 2019 ini merupakan doa yang yang dikabulkan oleh Tuhan yang maha esa, karena ketika tahun 2016 tepatnya di Jambore Nasional Gerakan Pramuka ke 10 di Bumi Perkemahan Tanah Air (Buperta) Cibubur, saya berjumpa dengan Kepala Pusat Pendidikan Pelatihan Pramuka Cabang (Pusdiklatcab) Kabupaten Natuna, Kak Harmidi. Beliau bercerita tentang indahnya kekayaan alam di Kabupaten Natuna, dan secara spontan saya bilang kepada beliau saya ingin ke Natuna suatu saat nanti, dan luar biasanya pada September 2019 perkataan tersebut dikabulkan oleh Tuhan yang maha esa untuk berangkat ke Natuna, bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa, tetapi saya melakukan pengabdian dan melakukan perkemahan perdamaian bersama adik-adik pramuka dari Desa Segeram, Kabupaten Natuna. 

Berangkatlah saya bersama Kak Nauli, dan Kak Bambang Abdul Aziz yang mana dia juga anggota MoP Indonesia serta anggota Dewan Kerja Daerah Gerakan Pramuka Provinsi Jawa Barat. Selain kami bertiga ternyata ada juga Kak Sri Gusni yang memang alumni Taruna Nusantara (TN) dan juga Kang Zeze yang mewakili komunitas literasi.

Tidak hanya anak-anak pramuka saja yang berangkat BN 2019, tetapi yang berangkat BN 2019 ini merupakan orang-orang yang profesional di bidangnya, mulai dari tim literasi, tim kesehatan hingga dokter bedah. Yang paling menarik dan membuat saya nyaman selama BN 2019 adalah keramahan para semua peserta BN 2019, dan sering menyapa saya, sehingga saya tidak merasakan adanya batas diantara kami semua, baik itu yang alumni TN ataupun bukan. Dan juga rasa gotong royong yang sangat tinggi saya rasakan ketika BN 2019 ini, tidak pandang jabatan ataupun pangkat, semua terjun langsung. Hal tersebut yang jarang saya temui di organisasi gerakan pramuka saya sendiri, terkadang di pramuka masih menerapkan prinsip senioritas dan yang memiliki jabatan bisa berbuat seenaknya, tak jarang saya temui anggota dewan kerja pramuka di tingkat provinsi yang sangat angkuh dan sombong, seolah-olah dirinya adalah pejabat, padahal ia hanya seorang anggota pramuka biasa yang seharusnya terjun langsung ke masyarakat. keramahan dan gotong royong inilah yang membuat saya nyaman ketika BN 2019. Selain hal tersebut orang-orang di BN 2019 juga sangat profesional dan detail.

Hal yang tidak bisa saya lupakan ketika BN 2019 adalah senyum manis dari adik-adik di desa Segeram. Mereka yang tinggal jauh di ujung negeri ini tidak pernah mengeluh dengan keadaan negaranya sendiri, dimana mereka tinggal tanpa sinyal dan listrik, setiap malam mereka tidur dengan kegelapan yang tidak bisa ditebak apa yang mengintai mereka setiap malam. Yang membuat saya sedih adalah ketika adik-adik desa segeram ini dengan hapalnya membaca teks Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dimana anak-anak di kota besar saat ini sudah banyak yang bercanda ketika melakukan kedua hal tersebut. Yang paling saya ingat ketika BN 2019 adalah kami selalu memberikan motivasi kepada adik-adik disana untuk rajin masuk sekolah dan jangan bolos sekolah, padahal ketika itu saya sedang bolos dari perkuliahan, hal yang membuat saya tertawa dalam hati.

Warga-warga di desa Segeram juga sangat ramah-ramah sekali, setiap hari kami selalu disambut dengan senyum hangat warga setempat. Setiap hari kami memakan masakan warga desa segeram yang mana mereka membuatnya secara bergotong-royong dengan mendirikan dapur umum. Semua warga desa ikut dalam proses gotong-royong tersebut.

Harapan saya bisa kembali bermain bersama wahyu (anak desa segeram) dan teman-teman lainnya disana. Saya juga berhapan BN bisa terus menginspirasi ke seluruh pelosok negeri ini, menyalakan api semangat gotong royong kepada seluruh warga yang ada. Saya juga berharap bisa kembali menjadi bagian di BN selanjutnya dan seterusnya.

bottom of page