top of page

Berjalan Bersama

 Musyaffa Teguh Fahlevi

Kevin Kegan.png

“Memang bisa apa anak mahasiswa semester 1? Baru juga selesai ospek udah ikutan beginian, bukannya fokus sama lingkungan baru dulu malah keluar kampus keluar pulau lagi”. Itu adalah salah satu komentar yang dilontarkan kepada saya, sebelum saya mengikuti kegiatan Bakti Nusantara di Natuna. Memang sih kalo dipikir-pikir kenapa saya malah memutuskan untuk izin dari kampus dan memutuskan untuk meninggalkan lingkungan yang memang benar-benar baru saya hadapi. Tentu hal tersebut menjadi polemik khususnya di kalangan teman-teman saya. Meskipun begitu seorang Levi mempunyai prinsip bahwa dalam kehidupan pasti ada pilihan yang harus ditentukan dan setiap pilihan punya resikonya masing-masing. Jadi, menurut saya masa depan akan sama saja, saya hanya tinggal memilih diantara 2 pilihan dan siap menghadapi resiko yang diambil. Takdir pun akhirnya menentukan saya untuk memilih membuat cerita baru dan pengalaman yang luar biasa dari pulau terluar di Indonesia Pulau Natuna “Laut Sakti Rantau Petuah”. 

Tanggal 21 September 2019 malam harinya saya dan tim benar-benar dibuat penasaran dengan yang namanya “naik hercules”. Selama penerbangan menuju Ranai pun kami sangat menikmati perjalanan. Wajar dari kami rata-rata memang baru pertama kali merasakan terbang dengan pesawat hercules ini. Dan selama di perjalanan kami benar-benar tidak merasa kesulitan bahkan tertidur sangat pulas. Tepat pukul 8 pagi kami sampai di Ranai disambut dengan sederhana dan superteam ini langsung diarahkan ke tempat check point sebelum kami berangkat ke desa dengan sejuta cerita, desa Segeram. Di tempat check point tentunya kami mempersiapkan segalanya mulai dari buku, lalu briefing dan pastinya saling memperkuat hubungan satu sama lain. Keesokan harinya adalah hari yang mungkin menjadi hari yang berarti untuk para penduduk Segeram karena yang mereka harapkan seakan-akan pada hari itu Tuhan wujudkan semua harapannya. Kami pun juga begitu, menjadi salah satu hari yang berarti bagi kami karena menurut kami akan banyak cerita inspirasi yang akan menyerbu kami. 

Orang pertama yang berinteraksi dengan saya adalah seorang anak pra-remaja dia bernama Wahyu dengan memakai seragam putih biru khas seragam SMP di Indonesia dia pun bertanya kepada saya “Kakak dari mana?” pertanyaan sederhana itu menjadi awal kisah saya di desa yang menjadi rahim dari Kabupaten Natuna ini. Wahyu pun mengantarkan saya ke rumah hostfam yang dimana rumah itu cukup dekat dengan pelabuhan tapi membutuhkan sedikit usaha dan tenaga untuk melewati jalan yang menantang. Dari situ saja sudah tidak terbayangkan bagaimana warga di sini sangat semangat dalam menjalani harinya. Bagi mereka jalan atau akses perjalanan yang kurang memadai pun tidak menjadi halangan untuk terus menjalani hari dengan tersenyum. Sepanjang perjalanan tidak ada satu kata keluh pun yang diucapkannya bahkan hanya nyanyian yang membuat kita teringat akan masa kecil. Hari itu pun kami sudah harus bersiap untuk menjalani kegiatan pertama yaitu Segeram Sehat. Banyak kegiatan yang kami laksanakan pada hari itu seperti seminar kepada orang dewasa mengenai kesehatan dan kebersihan tubuh, tak lupa pula penyuluhan sejak dini kepada anak-anak dan pra-remaja mengenai kesehatan. Saya pun diberi kesempatan bersama dokter Fifi untuk membagikan ilmu tentang PHBS dan kesehatan gigi serta mulut kepada murid-murid kelas 1-3 SD. Sadar bahwa sekelompok target yang kita ajar adalah anak-anak, maka dari itu diperlukan metode pembelajaran aktif dan kreatif agar anak-anak tidak cepat bosan. Pastinya dengan cara memberikan beberapa tepuk dan jargon apresiasi ke mereka. Seperti bila saya mengatakan “kasih dong!!!” mereka membalasnya dengan “Kasih WWWWWW... Kasih OOOOOOO... Kasih WWWWWW.... Kasih WOW...... WUAAAWWW........” dengan nada lagu “baby shark”. Tak pernah terpikiran dan terbayangkan oleh saya setelah kami menyelesaikan materi bahwa jargon itu akan menjadi terkenal di Segeram berkat kak Fifi yang terus mempublikasikannya ke anak-anak desa Segeram. Senang rasanya dari mereka saling berinteraksi dan saling memberikan apresiasi.

 

Selain Wahyu, saya bertemu dengan seorang anak yang kira-kira berumur 12 tahun bernama Jordi. Jordi adalah salah satu putra bangsa yang bercita-bercita menjadi seorang tentara. Dia pun bercerita mengenai sejarah terbentuknya desa Segeram kepada kami. Setelah mendengar cerita tersebut saya baru sadar ternyata tempat yang kami pijak saat ini adalah sebuah tempat yang bersejarah dengan masa lalunya yang hebat. Sungguh ironi melihat keadaan Segeram sekarang yang serba kekurangan dan terbatas. Sore hari itu pun kami akhiri dengan berfoto sembari menunggu sunrise dan tentunya golden moment itu insya Allah tidak mau kami lewati begitu saja. Malam harinya saya bersama Bang Taufan pun bergerak menuju dapur umum untuk melakukan kegiatan makan malam. Salah satu hal terbaik selama di Segeram adalah selalu menebak apa yang akan kita makan nanti. Karena setiap jam makan tiba, selalu menu terbaik yang disajikan yang pastinya makanannya enak. Saat saya sedang asyik makan, Di depan saya terdapat sebuah rumah. umah tersebut adalah rumah Tia, seorang remaja yang bersekolah di SMP 3 SATAP. Tepat di depan rumahnya, saya melihat ibunya Tia sedang memasak dan anak-anaknya pun duduk bersama sambil menunggu makanan tersebut matang dan siap dihidangkan. Canda gurau dan senyum di antara Tia dan saudara-saudaranya sungguh menjadi tanda bahwa bahagia itu sederhana. Tatapan dan senyum kecil di antara mereka justru menyentuh hati dan menjadi refleksi diri bahwa perlu adanya koreksi ke dalam diri akan definisi bahagia. Melihat mereka yang penuh akan kebahagiaan, saya pun mencoba bersyukur sudah diberikan kesempatan telah melihat dan merasakan kebahagiaan dari mereka yang mengajarkan arti bahagia. 

Keesokan harinya kami bersiap untuk menjalani hari dengan kondisi alam yang sepertinya memberi pesan kepada kami bahwa Segeram akan kembali dan bangkit dari keterbatasan. Kami juga yakin akan semesta yang mendukung kita dan semuanya akan baik baik saja. Hari itu melihat sekelompok guru datang dengan harapan untuk mendapat ilmu seperti melihat bahwa inilah emas Indonesia. Guru yang bertugas di perbatasan membagikan ilmunya bahkan tidak peduli akan kesejahteraan dirinya. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana anak anak didiknya “bisa lebih dariku” dan juga bagaimana mereka bisa berkontribusi untuk negara ini serta tetap bersyukur atas apa saja yang telah negara dan Tuhan berikan kepada dirinya. Para guru ini mengikuti pelatihan dengan serius dan PGRI yang berkolaborasi dengan Bakti Nusantara pun memberikan pelatihan yang menyenangkan yang tentunya tidak lupa menyuntikan materi dengan metode yang kreatif serta menarik sehingga membuat para guru mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan pada pelatihan kali ini. Tentunya menjadi apresiasi tersendiri untuk PGRI yang dapat menyukseskan salah satu kegiatan Bakti Nusantara ini. Tak terasa semangat dari para guru yang mengikuti pelatihan kali ini pun menghantarkan sinar matahari ke arah barat. Di waktu itupun saya menyempatkan untuk datang Taman Baca Masyarakat. Yang ternyata perlu kalian ketahui sebelum tempat ini menjadi TBM, dahulu tempat ini adalah tempat penjualan solar untuk boat yang ada di segeram. Sungguh kaget betapa keseriusan Kang Zeze beserta tim literasi yang berhasil menyulap tempat tersebut menjadi tempat yang layak untuk menjadi tempat menimba ilmu dan membuka jendela dunia. Tak terasa matahari terakhir pun tenggelam, perlahan menarik cahayanya seakan dia berbicara kepada saya, “Terima kasih telah datang ke Segeram, ini sunset terakhirmu yang akan kamu lihat disini”. Tersadarkan bahwa besok kami harus meninggalkan desa dengan sejuta cerita inspiratif ini. Sebelum matahari itu hilang saya sempatkan untuk berdoa dan berharap “Ya allah, maafkan saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk Segeram walaupun jiwa dan raga ini sesungguhnya sudah letih karena termakan oleh kondisi yang mungkin sudah hampir mencapai batas diri.  Saya harapkan desa ini bisa selalu menjadi mutiara indah di Indonesia. Memang tidak dikenal tapi merekalah yang merepresentasikan Indonesia yang sesungguhnya. Maka dari itu berkahilah segala gerakan dan inisiatif dari kami agar desa ini bisa selalu bahagia dan hanya Engkaulah yang tahu apa yang terbaik untuk Segeram. Terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang Engkau berikan ini.” 

Malam pun tiba. Hujan pun turun sangat deras. Tiba-tiba di depan kelas ada 1 anak yang memanggil namaku, “Kak Levii !!”. Saya tolehkan kepala dan tahu bahwa anak itu Arjuna namanya, siswa kelas 2 SD. Dia datang dan mengatakan kepada ku, “Kak udah lama banget loh desa kita belum hujan, sekarang hujannya deras sekali. Kakak jangan kemana-kemana ya disini aja di desa Segeram saja”. Mendengar hal itu didalam hatiku berkata  “Kalau Arjuna tahu besok kami pulang gimana ya??”. Saya pun sedih sekaligus bersyukur, sedih karena memang kenyataannya besok kami harus pulang, bersyukur karena doa saya tadi sore seakan dikabulkan langsung oleh Allah. Dia berikan hujan yang lebat. Dan ternyata hujan itu yang sangat dibutuhkan oleh warga Segeram untuk menghilangkan kabut asap yang beberapa bulan belakangan ini melanda. Saya pun menghabiskan malam itu dengan bercerita tentang Kota Surabaya kepada Arjuna. Dia sangat bersemangat tentang hal itu.

 Saya adalah seorang mahasiswa Kedokteran Gigi semester 1 dan di hari terakhir saya ini sepertinya akan menjadi hari bersejarah bagi saya. Pada hari ini Bakti Nusantara mengadakan kegiatan Sehat Nusantara dimana disediakan RS Lapangan dan Sunatan Massal di PUSKESDES.  Menjadi seorang dokter dan membantu orang menjadi salah satU tujuan hidup saya karena memang dalam jiwa dan hati saya tulus ingin membantu dan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan hal itu. Di PUSKESDES, betapa baik dan hebatnya para dokter atau senior saya saat mengambil tindakan. Terkadang pun saya diberikan ilmu tentang tindakan yang dilakukan seorang dokter dan insya Allah hal itu seperti memberikan suntikan semangat kepada saya yang sedang menempuh pendidikan ini. Tepat pukul 14.00 WIB kami harus meninggalkan Segeram, desa dengan sejuta inspirasi. Segala hal baik yang kami berikan di Segeram semoga menjadi pedoman dan semangat bagi para warga di sana yang tentunya membuktikan bahwa kalian tidak sendiri karena kami masih ada yang peduli. Bersama berlari dalam merajutkan asa, bersama berjuang dari tepi Indonesia mungkin kau kan temukan bahagia dalam berjalan bersama.

bottom of page